Bagian dari cerita yang telah selesai

Kami berpisah tanpa suara pecah, tanpa pintu dibanting, tanpa kata saling menyalahkan. Hanya sebuah kesepakatan sunyi bahwa mungkin, pada waktu itu, kami tak lagi berjalan ke arah yang sama. Namun ada hal-hal yang rupanya tak ikut pergi bersama keputusan itu.

Namanya masih tinggal di sudut-sudut kecil hidupku. Bukan sebagai luka, melainkan sebagai ingatan yang tak pernah benar-benar ingin ku sembuhkan. Ia hadir dalam hal-hal sederhana cara aku tersenyum pada lagu lama, atau saat senja datang terlalu pelan, seakan memberi waktu lebih untuk mengenangnya.

Aku tidak ingin kembali, juga tidak berharap ia menoleh ke belakang. Tapi ada jarak tipis antara ikhlas dan rindu yang tak bisa ku jelaskan. Seperti membaca buku yang sudah tamat, namun masih ingin membuka halaman favoritnya sekali lagi.

Jika aku diam lebih lama dari biasanya, itu bukan karena hatiku kosong. Justru karena ada seseorang yang pernah mengisinya dengan cara yang begitu tenang, hingga kepergiannya pun tak meninggalkan gaduh hanya ruang hening yang terasa berbeda.

Di dalam hening itu, aku belajar satu hal mencintai tak selalu berarti memiliki. Kadang, ia cukup hadir sebagai kenangan yang kupeluk dengan doa, tanpa perlu kembali menjadi nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunyi yang memintaku tinggal