Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Pelajaran dari Masa Sakit

 Di tempat itu aku berbaring setelah tubuhku dibuka dan disatukan kembali. Rasa sakit datang apa adanya, tanpa drama, tanpa izin. Setiap gerak mengingatkanku bahwa aku masih hidup, tapi belum sepenuhnya kuat. Di sekitarku ada orang-orang yang sedang mempertaruhkan hari esoknya. Ada yang menunggu kabar baik, ada yang bersiap menerima yang paling buruk. Tak banyak bicara, tapi semua saling tahu: kami sama-sama sedang berjuang. Aku melihat manusia apa adanya. Ada yang sabar, ada yang marah, ada yang diam karena sudah terlalu lelah untuk bertanya. Tidak ada topeng yang benar-benar bertahan di tempat seperti ini. Dari hari-hari yang sunyi itu, aku belajar satu hal sederhana: hidup bukan soal seberapa keras kita terlihat, tapi seberapa lama kita bisa tetap bertahan saat semuanya terasa berat. Dan sejak itu, caraku memandang waktu, orang lain, dan diriku sendiri tidak lagi sama.

Sunyi yang memintaku tinggal

Aku pernah menjadi tubuh yang lelah, seperti senja yang lupa caranya pulang. Napas terasa asing, hari-hari seperti kaca rapuh, dan siap pecah kapan saja Di antara jarum, doa, dan sunyi aku tidak ingin hidup. Bukan karena menyerah, tapi karena sakit mengajarkanku betapa mudahnya manusia ingin pergi. Lalu ayah datang bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai rumah yang tetap berdiri meski badai berulang kali memintanya runtuh. Tangannya adalah waktu yang tak pernah terburu-buru, matanya adalah keyakinan yang tidak pandai putus asa. Ia tidak bertanya kapan aku sembuh, ia hanya bertanya: “Hari ini kamu masih di sini, kan?” Ayah mengusahakan segalanya tanpa suara lelah, tanpa keluhan yang ingin didengar. Seolah sakit ku adalah doanya sendiri, dan hidupku adalah janji yang harus ia tepati sampai akhir. Aku ingin hidup kembali bukan karena dunia memanggil, bukan karena harapan terasa indah, tetapi karena ada satu cinta yang memilih tinggal saat aku ingin pergi. Jika hidup adalah sesuatu yang ...

Bagian dari cerita yang telah selesai

Kami berpisah tanpa suara pecah, tanpa pintu dibanting, tanpa kata saling menyalahkan. Hanya sebuah kesepakatan sunyi bahwa mungkin, pada waktu itu, kami tak lagi berjalan ke arah yang sama. Namun ada hal-hal yang rupanya tak ikut pergi bersama keputusan itu. Namanya masih tinggal di sudut-sudut kecil hidupku. Bukan sebagai luka, melainkan sebagai ingatan yang tak pernah benar-benar ingin ku sembuhkan. Ia hadir dalam hal-hal sederhana cara aku tersenyum pada lagu lama, atau saat senja datang terlalu pelan, seakan memberi waktu lebih untuk mengenangnya. Aku tidak ingin kembali, juga tidak berharap ia menoleh ke belakang. Tapi ada jarak tipis antara ikhlas dan rindu yang tak bisa ku jelaskan. Seperti membaca buku yang sudah tamat, namun masih ingin membuka halaman favoritnya sekali lagi. Jika aku diam lebih lama dari biasanya, itu bukan karena hatiku kosong. Justru karena ada seseorang yang pernah mengisinya dengan cara yang begitu tenang, hingga kepergiannya pun tak meninggalkan gaduh h...