Sunyi yang memintaku tinggal
Aku pernah menjadi tubuh yang lelah,
seperti senja yang lupa caranya pulang.
Napas terasa asing,
hari-hari seperti kaca
rapuh, dan siap pecah kapan saja
Di antara jarum, doa, dan sunyi
aku tidak ingin hidup.
Bukan karena menyerah,
tapi karena sakit mengajarkanku
betapa mudahnya manusia ingin pergi.
Lalu ayah datang
bukan sebagai pahlawan,
melainkan sebagai rumah
yang tetap berdiri
meski badai berulang kali memintanya runtuh.
Tangannya adalah waktu
yang tak pernah terburu-buru,
matanya adalah keyakinan
yang tidak pandai putus asa.
Ia tidak bertanya kapan aku sembuh,
ia hanya bertanya:
“Hari ini kamu masih di sini, kan?”
Ayah mengusahakan segalanya
tanpa suara lelah,
tanpa keluhan yang ingin didengar.
Seolah sakit ku adalah doanya sendiri,
dan hidupku adalah janji
yang harus ia tepati sampai akhir.
Aku ingin hidup kembali
bukan karena dunia memanggil,
bukan karena harapan terasa indah,
tetapi karena ada satu cinta
yang memilih tinggal
saat aku ingin pergi.
Jika hidup adalah sesuatu yang kekal,
maka ayah adalah alasannya.
Ia tidak menyembuhkan ku dengan kata,
tetapi dengan kehadiran
yang tak pernah hilang.
Dan jika suatu hari aku benar-benar sembuh,
itu bukan karena aku kuat,
melainkan karena aku dicintai
dengan cara yang tidak pernah meminta balasan
oleh ayah,
yang membuatku bertahan
meski hidup terasa terlalu berat untuk dipeluk.
Komentar
Posting Komentar